Saturday, December 12, 2015

Ladrang ayun - ayun

Seperti biasa setiap hari rabu dan jumat malam saya datang di latihan karawitan di kampung saya. Ngasem, Timbulharjo, Sewon, Bantul. Entah semenjak ikut ini saya menjadi sangat cinta sekali dengan gamelan dan sastra Jawa yang sekarang mendistorsi saya tentang musik. Musik - musik yang termasuk cadas, berisi pemberontakan lambat laun tereliminasi dalam playlist. Bahkan membuat saya kadang teralienasi ketika berkumpul dengan teman- teman sebaya saya di usia sekarang.
Lagu atau tembang  yang menjadi kegemaran saya yaitu ladrang ayun - ayun. Ya untuk tingkatan saya baru itu yang tau karena ladrang termasuk materi dasar, diatasnya ada tingkatan "ketawang" (bermakna= langit) dan atasnya lagi "gending".  ketawang ada banyak sekali apalagi gending. sungguh kaya sekali khasanah klasik nusantara ini, ini pun baru di jawa belum di daerah lain. :D
Mohon maaf apabila penerjemahannya keliru dari epistemologi bahasa dan makna, karena secara ontologis saya belum tau. Bermula saya googling tak nemu akhirnya saya mencoba mengartikan lewat kamus jawa kuno dan interpretasi saya ini sekali lagi  tak ada maksut mencemari makna aslinya.

NOTASI LADRANG AYUN-AYUN

Pelog 6

Buka   :   .   6  6  i             6  5  3  5            6  5  3  2            2  5  2  3            6  .   6  (.)

2  3  2  1            3  5  3  2            5  3  2  1            3  5  3  2

6  3  5  6            2  1  6  5            3  6  3  2            5  3  5 (6)

Ciblon

3  6  3  6           2  3  2  1             5  1  2  3            6  5  3  2

6  2  5  3           2  3  2  1             5  1  2  3            6  5  3  2

6  2  5  3      #  1  2  1  6             3  5  6   i             6  5  3  5

6  3  5  6           3  5  3  2             5  3  1  6             1  2  1 (6)



GOBYOK

3  6  3  6           3  6  3  6             .   2  .   3              .   2  .   1

5  1  5  1           5  1  2  3             .   6  .   5              .   3  .   2

6  2  6  1           6  2  5  3      nyandak #



Cakepan Gerong (vokal) irama 1 dan 2

Ayun-ayun gobyok gawe gumun

Tekun sarta rukun akeh kang kayungyun

Dadi srana iku datan jemu

Nyawiji ing penemu condhong ing kalbu



Cakepan gerong irama wilet (3) :

Tansah ngayun-ayun kayungyun

Temah nandhang wulangun  marmane nyata mendah baya

Tansah besus macaka  ngadi sarira angedi busana

Karana amung sira pindha mustika  esemmu nimas maweh welas  dasih

Murih aja kanandhang kaswa sih mara age prayogane

Tumuli gambuh rasane kang ana tambuhna

Kang ora ana takokena mrih condhonging kalbu

Mrih aja rengu muga-muga adoh ing panyendhu

bangbang wetan suruping surya ing wengi bangun tan kendhat angayun-ayun


Artinya

irama 1 dan 2

mempunyai harapan yang kadang membuat heran
tekun dan rukun  penuh kasih sayang
menjadi sarana yang tak pernah bosan
menjadi satu antaranya akal dan hati

irama 3
selalu mengharapkan cinta kasih
yang akhirnya menjadikan rasa rindu untuk menghindari sgala bahaya
menghias diri baik badan dan pakaian
karena hanya dirimulah akan menjdi mustika dg senyum belas kasih
supaya dg welas asih itu menjadikan kebaikan
mulai Tumbuhkan rasa cinta sejati
semuanya tanyakan pada lubuk hati terdalam
jangan ragu ragu semoga menjauh segala angkara murka
sinar jingga mentari di pagi hari masih bersinar yang
membuat tak hentinya berharap (berdoa).

Kepujanggaan klasik saya maknai positivistik, dalam seni ada indah dan endah. Ada bener ada pener.
Saya percayai beliau yang membuat karya ini harus menenangkan meredamkan batinnya entah lewat puasa atau lelaku apa. membuat karya ini sampai rasanya. Karena cinta dalam tembang ayun ayun adalah cinta antara hubungan manusia dengan Tuhan dan manusia dengan manusia.


Saturday, August 29, 2015

Mari Merdeka...!!!



17 Agustus tahun 45 itulah hari kemerdekaan kita, hari merdeka nusa dan bangsa, hari lahirnya bangsa Indonesia. Merdeka.
Merayakan sesuatu peristiwa yang besar memang sangat penting bahkan penting sekali. Merayakan kelahiranmu, pernikahanmu atau merayakan dengan berdoa tahlilan merayakan hari kematian, merayakan dengan wiridan bersama hari terjadinya bencana. Dan untuk mengenang suatu peristiwa pun dibangunlah monument, tugu, patung. Peristiwa akan berlalu begitu saja ketika tak dibuat pepeling (pengingat). Sirna ilang kertaning bumi, itu sengakalan runtuhnya kerajaan majapahit. Di Jawa  nusantara ada istilah sengakalan untuk mengingat hari waktu peristiwa yang besar. Jalan – jalan diberi nama para pahlawan bangsa, kampong – kampong, Negara, benua diberi nama berdasarkan tokoh penemunya atau orang yang berpengaruh penting. Ya semua itu teringkas penting dalam satu kata yaitu sejarah.
Kata Bung karno “jangan sekali –kali meninggalkan sejarah,.. blab la,,” dalam pidato  jas merah terakhirnya. Mungkin maksut Bung karno  “ ketika kamu menjadi orang yang berkuasa di jamanmu, buatlah sejarah yang benar sebenar – benarnya”.. karena sejarah adalah milik orang yang berkuasa.
Dan segala peristiwa yang benar tentang Mbah karno pada pidato itu, Monggo temukan sendiri atau sejarah tentang perjalanan hidupmu sendiri saja. Pernah saya membayangkan seorang tokoh yang besar saja ketika meninggal kadang hany a keluarga nya saja yang mendoakan. Apalagi kita yang bukanlah apa-apa menjadi orang pun juga sedikit eksistensinya. Ketika anak cucu kita tak tau kita, tentang sejarah kita bahkan nama kita pun cicit kita dah terputus benang merah informasi, tapi toh kita gausah repot – repot menjamah tentang itu karena kita punya Tuhan  yang Maha mengatur segalanya.
Merayakan hari yang besar ada juga out of topic alias melenceng dari substansinya. Saya menjadi berfikir mengapa lomba- lomba 17 agustus itu perlambang suka cita anak bangsa mengenang jiwa pahlawannya. Bahkan perayaan diisi dengan goyang – goyang YKS, bukan maksut skeptis  dengan hal ini bahkan ide  harus dirayakan seperti apa itu pun juga itu tidak mempengaruhi besar tentang kejayaan negeri ini.
Pada kenyataanya juga dari 17 Agustus setiap tahun membuat masyarakat menjadi lebih guyub rukun, tertawa bersama, kembali ke kekanak-kanakan bersama. Membuat semangat kebersamaan meskipun ada juga yang malah perang – perangan karena tersenggol nonton dangdut, atau  masih nggrundel karena kalah saingan dukun dalam pertandingan voly kampung seperti yang terjadi di kampung saya. 
17 Agustus adalah hari supaya kita menengok  kembali sejarah.

Sunday, August 9, 2015

Eksistensi Dukun bermahzab Kyai



Aneh – aneh saja Tingkah  pak Kamad ini, kesibukan sehari – harinya membuat kurungan ayam . Profesinya berganti ganti dari pengrajin bilik bamboo, pengrajin besek sampai kadang kala menjadi sopir travel. Hebat, di kala ini sepi ganti itu yang rame dan di waktu lebaran itu sempat juga pak Kamad membuat lampion dari stereoform untuk dia jual di pinggir jalan sampai pas hari raya shalat ied menjual balon di pinggir halaman jamaah shalat ied. Namun keistiqomahannya yaitu satu tetap membuat kurungan ayam dari bambu.
Suatu ketika di satu kampong itu dia tersaingi oleh Ramli pengrajin kurungan bamboo muda yang lebih ulet dan lebih marketable. Ya dari pemikiran dan tentang ilmu marketing pelayanan jelas pak Kamad kalah dengan Ramli. Kiprah Ramli malang melintang dalam dunia perkurungan ayam semakin besar sehingga menjadikan Pak Kamad mangkel dengan gelagat Ramli. Munculah isu kurungan ayam buatan Ramli mengandung mistis yang menyebabkan ayam – ayam kalo dikurung di kurungan buatan ramli menjadi gering (taksehat) sampai dibuktikan beberapa orang ternyata benar. Entah kebetulan atau itu memang dibuat sengaja seperti itu.  Ramli semakin heran dan dia berinisiatif membuat kurungan dengan bentuk yang berbeda,. Nah lho ternyata kurungan desain yang baru ini tak memberi efek sakit buat si ayam. Konsumen ramli pada balik lagi ke ramli, dan pak Kamad pun akhirnya berganti profesi baru.
Profesi baru pak Kamad menjadi Dukun yang bergelar Kyai tanpa Guru. Dan beberapa orang yang ingin meminta kesembuhan kesana anehnya juga sembuh kata orang – orang yang sering nimbrung di rumah pak Kamad. Antara percaya dan tidak percaya,. Dia kadang menjadi harimau, ngglesot, merauh seperti buto cakil, kadang menjadi sesosok bocah kecil yang celat katanya makhluk yang sering ikut pak Kamad ini adalah cucu dari Nyai Roro Kidul, kadang menjadi sosok yang berkepribadian tua. Namun yang paling sering yaitu pribadi pak Kamad menjadi bocah bisu. Dari bocah bisu ini pak Kamad terkenal dengan panggilan mbah Bicu. Digosoknya tangan kanannya keluar uang 50-ribuan halus-halus. Sudah seperti wali saja mbah bicu sampai anak kecil yang sudah betumur 3 tahun gak bisa bicara dibawanya ke mbah bicu, pun juga ada tanda-tanda mulai membaik. Ada yang seret rejekinya minta syarat ke mbah bicu ya semakin lancer rejekinya dengan tak lepas syarat-syarat materi yang khusus beaik uang buat mbah bicu atau ubo rampe kembang kemenyan. Tak lepas itu semua mbah bicu yang dulunya ahli maksiat sekarang menjadi ahli syariat bahkan tharikat juga wejangannya kepada pasiennya pun disuruhnya untuk ndeder syariat.
Eksistensi mbah Bicu semakin hebat, gak kerja pun dapat uang. Profesi menjadi dukun bergelar kyai memang sangat profitable. Entah itu sugesti si pasien atau benar kehebatan Mbah bicu yang batin orang pun dia tau menjadikan dia sering mengupas kejelekan orang ini ke orang itu yang dating kesitu.
Sungguh hebat mungkin bisa –bisa itu benar wali atau bahkan nabi kontemporer. :D
“Ayam pun lebih tawakal.. memilih untuk sakit, memilih kurungan yang baik buat dirinya, karena Ayam selalu menerima dengan ihlas kehendak-Nya akan garis hidupnya”. Guman Ramli sambil bul bul… hembuskan rokok kreteknya. (y)

Avan Lintang

Monday, February 9, 2015

Sinom Itu Ayat

Yaitu tentang rasa....

Lebih baik jangan tidur pas sandikala
entah itu dilarang atau disuruh...
laksana daun jati kering.....kreeeeeeek...
diinjak hancur dan tak ada guna...

Sungguh enak didengar dan dirasa
itu bunga kamboja kuning berjajar kembar dalam satu tangkai...
Perlambang hidup kita yang tak bisa sendiri..

Tak enak hati terucap dalam indahnya tersampaikan..
tak seperti di jaman yang katanya modern...
kemanusiaan yang adil dan beradap hanyalah panji2 yang jargonistik...
sarung peci sebagai.. penutup borok..
persaingan bebas yang kian bebas
sungguh modern yang tak terperi..

Sunday, February 8, 2015

Hamemayu Hayuning Bawana

Tentang ruwatan -
Beberapa waktu yang lalu saya ngobrol ama teman ngobrol dg obrolan yg biasanya ttg sesuatu yg gak penting untuk diobrolkan.
Sebenarnya tentang sudut pandang, yang mana beliau mengkritisi tentang ruwatan, sedekah bumi, sesaji itu adalah sesuatu hal
yang sangat mendekati mudharat daripada manfaatnya. tapi ini barulah sudut pandang karena manusia mempunyai sudut yg berbeda2, ada yg 20 derajat bahkan 100 derajat.
sah-sah saja,. beliau mengembalikan semua itu kpada Al Quran dan Hadist, mungkin tak sesuai jarene. karena saya tidak banyak tau ttng Alquran dan habist, bisa dibilang sedikit
saja belum. Namun menurut saya, tak ada sesuatu yang tak ada di Al Quran dan Hadist atau di kitap2 selain itu juga ada kayaknya.
Orang Nusantara, orang jawa khususnya atau orang jaman dulu deh, sudah tau tentang hubungan dia dengan Tuhannya, dengan sesama, dengan Alam semesta, dengan laut,
dengan gunung. Ingat hukum kekekalan energi ? energi tidak dapat dihancurkan tapi dapat berpindah dari zat satu ke zat lain.
Orang jaman dulu sudah tau tentang hubungan dia sbgai mikrosmos dan dia sebagai makrokosmos. kenapa dbuang ke laut, kenapa sesaji itu dutaruh di bawah pohon,
kenapa bentuk dari salah satu persembahan itu adalah beras atau ketan. Saya berfikir pragmatis saja, selain orang jawa membendakan doa ke dalam bentuk yang orang banyak menyebutnya sesaji
juga sudah ada semacam insting atau kode2 tertentu yang orang jawa nusantara tau. ya itu harus kembang 7 macam, kenapa harus ada uang receh. Koordinat itu lah mungkin yang bisa mensinergikan
frekuensi. Ketika kita sudah satu frekuensi kita enak mau ngobrol, kita enak mau rembugan. Oh pohon aku harap jangan tumbang di rumahku. Oh Gunung aku mohon jangan meletus dulu, "oh iya,. baiklah,
kalau begitu kamu harus bersedekah.. sedekah dengan bumi sebagai bukti kau cinta keseimbangan alam hamemayu hayuning bawana.. labuh/ buanglah segala kekotoran hati
kekotoran pikiran yang dimanifestasikan dengan sesuatu yang kotor semisal itu rambut atau kuku, dan buangnya di laut  di sungai besar. Dengan tujuan membersihkan diri dari kotoran (thaharah).
Kata beliau - hati2 dengan embel2 kata budaya - ya budaya ada sesuatu yang profan juga ada sesuatu yang sakral. Nabi Muhammad Saw pun mengadaptasi budaya makkah zaman dahulu yaitu salah satunya thawaf,
mengelilingi ka'bah. Orang jahiliyah sudah tau tentang thawaf, tapi dulu kan telanjang dan untuk menyembang lata, uza.. Solu'alaMuhammad.